Awasi Musik Anda!
Hati-hati dengan lagu yang kita dengarkan. Tragis sekali lirik lagu yang saya dengarkan sepanjang perjalanan Bandung-Kudus Minggu malam kemarin. Lirik paling getir yang masih saya ingat adalah,"Bibir ini kugigit sendiri, hati ini kuremas sendiri, dst..". Yang benar saja?
Selepas dari Jatinangor, kru bus yang saya naiki mulai memutar koleksi hitsnya. Lengkap. Kebanyakan dari era 80-an. Sebagian besar lagu cengeng. Liriknya menyayat-nyayat, sendu, miris, tragis, dan sangat pesimis. Tentang ditinggal selingkuh, nasib yang buruk, apa dosaku, kejamnya dunia, dan sejenisnya.
Hati-hati dengan apa yang kita dengarkan. Termasuk lagu yang mewarnai ruang kerja kita. Iya, yang biasa kita putar dari Winamp atau Windows Media Player komputer kita.
Teman, sebagian besar aktivitas kita digerakkan oleh alam bawah sadar kita. Apa yang ada di alam bawah sadar kita terbentuk dari apa yang indra kita terima. Dari apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Sayangnya proses penyerapan dari indra tersebut terjadi secara tidak sadar. Jika Anda hidup bersama orang-orang pesimis, lambat laun Anda pun akan tertular pesimis.
Jadi kalau kita mendengarkan lagu berlirik negatif, secara tidak sadar pikiran kita menyerap energi negatif lirik tersebut. Apalagi musik. Musik itu paling mudah berkolaborasi dengan jiwa. Energi negatif yang terserap itu kemudian menjadi bahan bakar dari getaran-getaran perasaan atau pikiran kita. Dan getaran-getaran tersebut akan menarik alam semesta untuk menjadikannya sebagai kenyataan yang menimpa kita. Anda tahu Law of Attraction kan?
Joseph Murphy, seorang hypnotist, pernah mengatakan kalau kehidupan kita adalah penggambaran luar dari 'gambaran dalam' diri kita.
Jelas. Kehidupan kita adalah tanggung jawab kita. Hidup Anda adalah tanggung jawab Anda.
Jadi jangan heran kalau penyanyi-penyanyi berlirik negatif juga menemui kenyataan liriknya di hidup mereka masing-masing. Bernyanyi tentang selingkuh, dia sendiri selingkuh di dunia nyatanya. Silakan cari sendiri contohnya.
Intinya, daripada hal-hal buruk menimpa diri kita, lebih baik review kembali playlist lagu yang akan kita dengarkan. Hapus saja lagu-lagu berlirik negatif. Daftarkan hanya lagu berlirik positif. Ya, hanya yang positif.
Jika Anda pernah menyimak konsep Quantum Learning, kita dianjurkan untuk memutar instrumentalia barok untuk mengkondisikan suasana. Dan jika terpaksa kita harus memutar lagu berlirik (bukan instrumentalia), pastikan lagu itu berlirik positif.
Quantum Learning juga bagus untuk diterapkan di dunia kerja, anggap saja Quantum Working namanya.
(ditulis oleh darmawan sigit. versi lebih santai artikel ini, baca di sini.)
1 Responses »
Trackbacks
Leave a Response




Entries(RSS)