Selamat datang di Website Resmi KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus. Mari kita BANGGAKAN INDONESIA !   -   Jika Anda membutuhkan informasi tentang kegiatan impor, ekspor dan cukai dapat menghubungi kami di CONTACT CENTER BRAVO BEA CUKAI (021) 1500225, Email : info@customs.go.id dan SMS Center : 081-1500225   -   Realisasi penerimaan Kantor Bea Cukai Kudus sampai dengan tanggal 30 Juni 2017 adalah Rp 9,902 T, dengan rincian penerimaan Cukai = Rp 9,879 T, Pabean = Rp 22,839 M.    -   
Kolom Cukai
Edisi Lainnya

Edisi 05-04-2012

Pertanyaan :

Saya sebagai penjual rokok ketengan, mohon penjelasan tentang penggunaan pita cukai bekas? Dan apakah yang menggunakan dan menjual pita cukai asli tapi bekas melanggar aturan cukai dan dapat dipidana penjara?  Mohon dijelaskan. (Khambali – Kudus).


 Jawaban :

Secara umum yang dimaksud dengan menjual rokok ketengan adalah, disamping menjual rokok secara per bungkus (satu bungkus penuh) juga menjual secara per batang, yaitu dari satu bungkus rokok dibuka kemasannya kemudian dijual per batang. Jika rokok yang dibuka kemasannya tersebut adalah rokok resmi (berpita cukai asli), maka menjual rokok per batang (ketengan) tidak melanggar aturan cukai. Akan tetapi jika penjual rokok ketengan  dalam membuka bungkus rokok yang dijual secara ketengan tersebut tidak dengan merusak pita cukainya dengan maksud untuk dijual kembali kepada agen penjual rokok tersebut merupakan pelanggaran aturan cukai. Demikian pula termasuk agen yang membeli dan pihak yang menggunakan / melekatkan pita cukai bekas tersebut pada kemasan produk rokok yang lain atau produk baru.

Perlu diketahui, pita cukai yang tertempel pada bungkus rokok merupakan tanda bukti bahwa cukainya telah dibayar. Oleh karena itu pita cukai bekas pakai yang dilekatkan kembali pada produk rokok lain atau produksi rokok yang baru termasuk tindakan yang mengelak / menghindar dari pembayaran cukai. Tindakan seperti ini merupakan tindak pidana karena menghilangkan hak Negara atas pungutan cukai terhadap barang kena cukai dan berakibat merugikan penerimaan Negara.

Penggunaan pita cukai bekas pakai adalah menggunakan atau melekatkan kembali pita cukai dari bungkus rokok yang rokoknya telah terjual di pasaran. Penggunaan pita cukai bekas pakai ini melalui proses kerjasama saling menguntungkan yang merupakan jaringan penjual eceran, agen / pengepul dan produsen rokok. Mekanisme kerjasama jaringan tersebut, diantaranya :

  1. Penjual eceran mengambil kembali pita cukai ketika rokoknya dibeli dengan memberi kompensasi potongan harga kepada pembeli.
  2. Agen / pengepul membeli pita cukai bekas yang sudah terkumpul di tempat penjual eceran dengan harga yang telah disepakati.
  3. Agen / pengepul menyetorkan kembali pita cukai bekas tersebut kepada produsen rokok.

Penggunaan pita cukai bekas pakai dapat dilakukan oleh pengusaha pabrik legal maupun ilegal. Tindak pelanggaran tersebut dilakukan, diantaranya dengan maksud dan tujuan :

  1. Agar dapat menjual rokok dengan harga murah sehingga dapat mudah laku di pasaran.
  2. Mengelabuhi masyarakat dan aparat bea cukai sehingga produk rokok yang dijual di pasaran tampak sebagai produk rokok asli (legal)
  3. Mengimbangi tekanan persaingan dalam pemasaran akibat keberadaan rokok polos (tanpa pita cukai) yang beredar di pasaran
  4. Berspekulasi mengejar keuntungan yang lebih besar

Pada undang-undang nomor 39 tahun 2007 pasal 32 terdapat larangan kegiatan pengusaha pabrik yang pelunasan cukainya dengan cara pelekatan pita cukai sebagai berikut :

  1. Menyimpan atau menyediakan pita cukai yang telah dipakai
  2. Menyimpan atau menyediakan pengemas / bungkus rokok yang telah dipakai dengan pita cukai yang masih utuh.

Apabila larangan tersebut dilanggar, dikenai sanksi administrasi berupa denda paling sedikit dua kali nilai cukai dan paling banyak sepuluh kali  nilai cukai yang didapati telah dipakai.

Pada pasal 55 setiap orang yang mempergunakan, menjual, menawarkan, menyerahkan, menyediakan untuk dijual, atau mengimpor pita  cukai yang  sudah dipakai, dipidana dengan pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama delapan tahun  dan  pidana  denda  paling  sedikit sepuluh kali nilai cukai dan paling banyak dua puluh kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.

Banner
Facebook Like
Statistik
Anda Pengunjung Ke-88685
Hari Ini25
Kemarin71
Bulan Ini6983
Total88685
IP Anda54.158.25.146